{"id":515,"date":"2024-01-01T17:09:05","date_gmt":"2024-01-01T17:09:05","guid":{"rendered":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/?p=515"},"modified":"2024-01-01T17:09:05","modified_gmt":"2024-01-01T17:09:05","slug":"apasih-puisi-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/?p=515","title":{"rendered":"Apasih Puisi itu?"},"content":{"rendered":"<p>PUISI<\/p>\n<p>Puisi adalah\u00a0<strong style=\"font-style: inherit;\">karangan teks yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyairnya dengan mengutamakan keindahan kata-kata<\/strong>. Jadi dalam puisi, kita dapat menyampaikan rasa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan yang kamu ungkapkan dalam bahasa yang indah. Dari Wikipedia bahasa Indonesia <strong>Puisi<\/strong>\u00a0adalah salah satu jenis\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Karya_sastra\">karya sastra<\/a>\u00a0yang\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gaya_bahasa\">gaya bahasa<\/a>nya sangat ditentukan oleh\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Irama\">irama<\/a>,\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rima\">rima<\/a>, serta penyusunan\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Larik\">larik<\/a>\u00a0dan\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bait_(sastra)\">bait<\/a>.<\/p>\n<p><strong>Ciri-Ciri Puisi<\/strong><\/p>\n<p>Nah, untuk membedakan puisi dengan jenis-jenis karya sastra lainnya, kamu bisa memperhatikan dari\u00a0<strong>ciri-ciri puisi<\/strong>\u00a0berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Puisi terdiri dari beberapa bait. Umumnya, setiap bait terdiri dari empat baris atau larik.<\/li>\n<li>Puisi akan menggunakan diksi atau kata-kata yang bersifat kiasan untuk memperindah bunyi. Contoh penggunaan kata dalam puisi:<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Wahai,<\/em> <em>rembulan yang bundar<\/em><\/p>\n<p><em>Jenguklah jendela kekasihku!<\/em><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Diksi pada puisi harus memperhatikan rima. Rima adalah pengulangan bunyi, baik dalam baris (larik) atau akhir sajak. Rima bisa berbunyi a-a-a-a atau a-b-a-b.<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Bukan kematian benar menusuk kalb<strong>u<\/strong><\/em><\/p>\n<p><em>Keridhaanmu menerima segala tib<strong>a<\/strong><\/em><\/p>\n<p><em>Tak kutahu setinggi itu atas deb<strong>u<\/strong><\/em><\/p>\n<p><em>dan duka maha tuan bertakht<strong>a<\/strong><\/em><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Puisi biasanya menggunakan\u00a0<a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-jenis-dan-contoh-majas\">majas atau peribahasa<\/a>.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Jenis-Jenis Puisi<\/strong><\/p>\n<p>Terdapat beberapa jenis puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasannya, yaitu puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. Kita bahas satu per satu, ya!<\/p>\n<ol>\n<li><strong> Puisi Naratif<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Puisi naratif adalah puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair<\/strong>. Puisi naratif terbagi menjadi dua, yaitu balada dan romansa. Wah, apa tuh bedanya? Nah, balada adalah jenis puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa maupun tokoh pujaan. Contoh puisi balada ini pernah ditulis oleh W.S. Rendra yang berjudul Balada Orang-Orang Tercinta.<\/p>\n<p>Sementara itu, romansa adalah jenis puisi yang bercerita tentang kisah percintaan, dan diselingi perkelahian atau petualangan. Contohnya puisi karya Sitor Situmorang yang berjudul Lagu Gadis Itali.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Puisi Lirik<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan berbagai perasaan penyairnya<\/strong>. Puisi lirik dibagi menjadi tiga macam, yaitu elegi, serenada, dan ode. Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka dari si penyairnya. Contohnya, Elegi Jakarta I karya Asrul Sani.<\/p>\n<p>Selanjutnya, serenada adalah sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Nyanyian serenada ini tepat dinyanyikan pada waktu senja. Contohnya puisi Serenada Biru karya W.S. Rendra. Terakhir, ode merupakan jenis puisi yang berisi pujian yang dapat ditunjukkan untuk seseorang, suatu hal, maupun suatu keadaan. Contohnya, puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Puisi Deskriptif<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Puisi deskriptif adalah puisi di mana penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap suatu keadaan, peristiwa, benda, maupun suasana yang menarik perhatiannya<\/strong>. Puisi deskriptif terbagi menjadi dua, yaitu satire dan puisi kritik sosial.<\/p>\n<p>Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, tetapi dengan cara menyindir atau menyatakan hal yang sebaliknya. Contohnya, puisi karya KH A Mustofa Bisri yang berjudul Negeriku. Sementara itu, puisi kritik sosial juga merupakan jenis puisi yang mengungkapkan ketidakpuasan penyair terhadap suatu keadaan, tetapi dengan cara membeberkan atau menyebarkan ketidakadilan yang terjadi. Contohnya, puisi yang berjudul Aku Tulis Pamplet Ini karya W.S. Rendra. (https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-puisi-dan-unsur-pembentuk-puisi).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PUISI Puisi adalah\u00a0karangan teks yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyairnya dengan mengutamakan keindahan kata-kata. Jadi dalam puisi, kita dapat menyampaikan rasa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan yang kamu ungkapkan dalam bahasa yang indah. Dari Wikipedia bahasa Indonesia Puisi\u00a0adalah salah satu jenis\u00a0karya sastra\u00a0yang\u00a0gaya bahasanya sangat ditentukan oleh\u00a0irama,\u00a0rima, serta penyusunan\u00a0larik\u00a0dan\u00a0bait. Ciri-Ciri Puisi Nah, untuk membedakan puisi dengan jenis-jenis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":516,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/515"}],"collection":[{"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=515"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/515\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":517,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/515\/revisions\/517"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/516"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbitazkagemilang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}