Menyigi Zaman adalah catatan reflektif tentang paradoks kehidupan modern. Di satu sisi, teknologi menjanjikan kemudahan, birokrasi mengklaim transparansi, dan demokrasi membuka ruang partisipasi. Namun di balik itu, kita menyaksikan krisis kepekaan pejabat publik, monopoli media, eksploitasi sumber daya, dan masyarakat yang sering kali menjadi korban kebijakan. Menyigi Zaman adalah bacaan bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam bagaimana hukum, teknologi, media, dan kekuasaan saling bertaut, membentuk wajah kehidupan kita sehari-hari.
Zaman modern adalah panggung besar yang penuh paradoks. Di satu sisi, teknologi menjanjikan kemudahan hidup, birokrasi menawarkan transparansi, dan demokrasi membuka ruang partisipasi. Namun di sisi lain, kita menyaksikan krisis kepekaan pejabat publik, monopoli media, eksploitasi sumber daya, dan masyarakat yang sering kali menjadi korban kebijakan.
“Menyigi Zaman” adalah upaya merekam denyut itu. Buku ini tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga refleksi: bagaimana hukum, jurnalistik, kekuasaan, sosial, dan teknologi saling bertaut, membentuk wajah kehidupan kita sehari-hari.
Tulisan-tulisan dalam buku ini bukan sekadar laporan fakta, melainkan catatan reflektif yang berusaha menyeimbangkan antara data, analisis, dan suara hati. Saya ingin mengajak pembaca melihat bahwa di balik angka-angka anggaran, regulasi, dan jargon teknologi, ada manusia yang merasakan dampaknya: petani yang kehilangan lahan, masyarakat yang kekurangan air, pasien yang dirugikan, jurnalis yang dibungkam, dan generasi muda yang mencari harapan.