Dari sekian banyak bentuk ibadah puasa, aku menemukan keunikan tersendiri dalam Puasa Daud. Polanya yang selang-seling—sehari puasa, sehari tidak—memupuk disiplin yang tidak meledak-ledak, tapi bertahan dalam jangka panjang. Ia membangun keteguhan tanpa memaksa, menjaga tubuh dari kelelahan berlebihan, namun tetap menantang batin untuk konsisten. Puasa ini juga mengajak kita berdamai dengan jeda; hari-hari tidak berpuasa menjadi ruang untuk merenung, bukan untuk lengah. Dalam ritme seperti ini, aku merasa tubuh dan jiwa diajak berdialog secara lebih seimbang.
Melalui buku ini, aku ingin mengajak pembaca untuk memandang ibadah dari sisi yang lebih hidup dan bersentuhan langsung dengan realitas harian. Bahwa puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang disiplin, manajemen emosi, kejernihan berpikir, serta kedekatan spiritual yang membumi. Ini bukan buku petunjuk, bukan pula doktrin. Ini adalah catatan pengalaman—jujur, kadang rapuh, namun penuh niat baik—yang semoga dapat menginspirasi siapa pun yang sedang mencari keseimbangan antara dunia dan jiwa.